Jumat, 02 Januari 2015

2014, Lika-likuku, dan Indonesiaku

Oleh: Fathoni Ahmad

Akhir tahun 2013, tepatnya tanggal 10-19 Desember 2013 aku mengikuti Diklat di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) dalam rangka pemantapan nilai-nilai kebangsaan bagi para calon pemimpin yang mana difokuskan kepada para anggota partai politik (parpol) menjelang Pemillu 2014. Aku sebetulnya bukan anggota parpol, tetapi aku berangkat sebagai bagian dari organisasi masyarakat yang bergerak dalam bidang kebangsaan. Jadi cukup relevan jika toh aku diminta mengikuti diklat tersebut oleh salah satu politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Bang Abdul Jalil. Ah, padahal dia sudah masuk usia tua, tetapi panggilan itulah yang seakan membuat kita akrab dalam relasi organisasi.
Read More

Rabu, 24 Desember 2014

Ibu, Wanita Muda dan RA Kartini

Oleh: Fathoni Ahmad

Tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu (Mothers Day). Pada tanggal itu juga, digelar Kongres Perempuan Indonesia pertama  di Yogyakarta tahun 1928, sebagai instrumen pendobrak pola pikir yang bersifat paternalisitik. Semuanya seolah laki-laki yang berhak dalam peran kehidupan. Wanita seolah hanya pengisi ruang yang sangat familiar di telinga kita, dapur, sumur dan kasur. Bahkan fenomena demikian terjadi kepada wanita muda seperti seorang RA Kartini (wafat usia 25 tahun). Kendati demikian, wanita muda tersebut adalah seorang pendobrak paternalistik sejati.
Read More

Selasa, 09 Desember 2014

Cara Gus Dur Membaca Sepak Bola

Oleh Fathoni Ahmad

Sebelumnya, tidak ada yang menyangka kepakaran Gus Dur di bidang sepak bola. Para koleganya bahkan tidak memungkiri kepakaran Gus Dur dalam bidang agama karena dia Kiai, dalam bidang sosial-politik karena dia politikus yang negarawan, ataupun dalam bidang budaya karena dia adalah budayawan. Bahkan Gus Dur lebih kental kepakarannya dalam semua bidang itu. Tetapi paham dan tajam dalam membaca sepak bola sekelas Piala Dunia dan Piala Eropa, itulah yang membuat para pengamat sepak bola profesional pun dibuat terperangah dengan cara Gus Dur membaca Sepak Bola.
Read More

Jumat, 24 Oktober 2014

Kabinet Semiotika Jokowi

Oleh: Acep Iwan Saidi

TANTANGAN pertama Joko Widodo dalam kepemimpinannya adalah membentuk kabinet baru. Profil kabinet ini tentu harus segar bagi dirinya sendiri sekaligus harus menyegarkan khalayak. Salah satu syaratnya, ia mesti berbeda dari kabinet terdahulu. Ruh keberbedaan kabinet Jokowi penting disambungkan dengan sosok Jokowi sendiri. Jika sebelumnya presiden Indonesia selalu dari kalangan militer dan elite sipil, Jokowi berasal dari ”dusun”, sipil dari keluarga yang bisa dibilang ”tidak berkasta”. Jokowi adalah ”presiden pinggiran”.
Read More

Kamis, 23 Oktober 2014

Empat Mudharat Pernikahan Raffi-Nagita

Oleh Arman Dhani

Pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina tidak hanya menghina masyarakat dengan menyandera frekuensi publik, melainkan juga pada satu titik ia telah merusak peradaban kita yang adiluhung. Ini bukan masalah iri atau tidak iri, beneran. Ini perkara substantif, perkara kemanusiaan. Kalau sekadar nikah dan disiarkan di televisi, Anang Hermansyah dan istrinya-yang-saya-gak-tau-namanya-dan-males-gugling-itu juga pernah. Gak main-main, bahkan konon sampai ditanggung oleh ABPD Kabupaten Jember (meski belum juga terbukti). Tapi pernikahan Raffi ini berbahaya. Bayangkan, berapa juta ibu-ibu beranak gadis yang kemampleng pengen punya mantu kayak Raffi?
Read More

Salah Tafsir Jokowi

Oleh: Radhar Panca Dhana

SEJUJURNYA sangat menjenuhkan—bahkan menggelikan—untuk berpikir atau menulis mengenai hal yang hari-hari ini menjadi tren atau semacam trending topic dalam media sosial. Sebuah kecenderungan yang menyuburkan tumbuhnya fashioned atau fad intellectual. Semacam pemikir atau pengamat yang menggunakan kelincahan literer dan pelisanan, bukan pikirannya, sekadar sebagai gincu untuk mengikuti isu publik seperti kita tergiur oleh busana dan gadget terbaru hanya karena renda-renda atau fitur tambahan yang lucu.
Read More

Senin, 13 Oktober 2014

Usaha Memperluas Pemahaman Terhadap Sebuah Tradisi

Oleh Fathoni Ahmad

Secara leksikal, tradisi berarti kebiasaan. Ya, kebiasaan yang berkesinambungan dalam kehidupan masyarakat sehingga tak jarang manusia meyakininya sebagai sebuah laku sosial maupun keagamaan yang mesti dilaksanakan. Oleh sebab itu, tak jarang sebuah tradisi berbenturan dengan keyakinan agama bagi sekelompok orang, terutama dalam lingkup agama Islam di Indonesia. Sebenarnya pemahaman seperti ini kontradiktif mengingat agama Islam di Nusantara ini disebarkan melalui instrumen tradisi dan budaya. Wali Songo, sebagai pelaku penyebaran Islam di Nusantara tidak memberangus sedikitpun tradisi maupun budaya orang-orang Nusantara. Justru mereka menjadikan semua itu sebagai media dalam proses internalisasi nilai-nilai Islam sehingga Islam dengan mudah dapat merasuk ke dalam hati mereka di tengah keyakinan nenek moyangnya yang telah berjalan selama berabad-abad.
Read More